Jakarta, Indonesia, sedang mengalami transformasi signifikan dalam sektor perbankan, terutama dengan penerapan prinsip-prinsip perbankan ramah lingkungan. Salah satu lembaga yang mempelopori gerakan ini adalah PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, yang menunjukkan komitmennya terhadap prinsip green banking melalui inovasi dan praktik berkelanjutan.
Dalam pernyataan resminya, Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menyatakan bahwa bank ini telah menjadi yang pertama di Indonesia meraih ESG Rating AA dari lembaga pemeringkat internasional. Capaian ini menunjukkan komitmen BTN dalam menerapkan prinsip Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (ESG), dan menandai langkah maju bagi industri perbankan nasional.
Nixon menjelaskan bahwa BTN berupaya untuk tidak mendukung aktivitas yang merusak lingkungan, seperti penambangan batu bara atau pengolahan sawit. Hal ini menjadi salah satu alasan utama mengapa BTN berhasil mendapatkan rating ESG yang tinggi di antara bank-bank lain di tanah air.
Penerapan Prinsip Green Banking oleh BTN yang Inovatif dan Efisien
BTN menekankan bahwa 90% dari portofolionya diarahkan untuk sektor perumahan dan konstruksi, dengan fokus utama pada masyarakat berpenghasilan rendah. Ini menjadikan BTN sebagai institusi penting dalam mendukung program perumahan bagi rakyat kecil di Indonesia.
Dengan pengucuran dana yang hampir mencapai 6 juta keluarga, BTN berkomitmen mendukung segmen sosial dalam strategi ESG. Selain itu, sisa 10% dari portofolio BTN juga tetap berkorelasi dengan sektor perumahan, seperti pembiayaan untuk korporasi yang menyediakan distribusi air bersih.
Di samping dukungan pada sektor perumahan, BTN telah mengambil langkah berani dengan memperkenalkan program-program berbasis ekonomi sirkular. Salah satu program unggulannya adalah inisiatif Rumah Rendah Emisi yang mengharuskan material yang digunakan untuk pembangunan rumah berasal dari plastik daur ulang.
Inovasi Dalam Mengelola Sampah Melalui Program Bayar Angsuran
BTN juga meluncurkan program yang memungkinkan nasabah untuk mengumpulkan sampah rumah tangga sebagai bagian dari pembayaran cicilan KPR. Kerjasama dengan startup Rekosistem memungkinkan sampah tersebut diproses dan dikonversi menjadi uang, selanjutnya ditambahkan ke tabungan nasabah untuk pengurangan cicilan.
Melalui program ini, pemilik rumah dapat memanfaatkan sampah rumah tangga mereka, sehingga mengurangi cicilan KPR mereka hingga Rp120.000 setiap bulan. Inisiatif ini tidak hanya mendorong pengelolaan sampah yang baik, tetapi juga membantu dalam mengurangi emisi karbon yang dihasilkan oleh sampah.
Nixon menekankan bahwa program ini merupakan bentuk evolusi pemikiran untuk mendorong monetisasi sampah dengan tujuan yang lebih besar. Pendekatan ini menggugah kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah dan dampaknya terhadap lingkungan.
Perubahan Praktik Perbankan untuk Mewujudkan Keberlanjutan
Dengan semakin mendesaknya kebutuhan untuk melestarikan lingkungan, BTN pun menerapkan prinsip ESG dalam operasional sehari-hari. Hal ini termasuk pengurangan penggunaan kertas melalui digitalisasi dan penerapan kendaraan listrik untuk aktivitas operasional.
BTN juga berinvestasi dalam pemasangan panel surya di kantornya untuk mengurangi ketergantungan pada energi konvensional. Upaya ini tidak hanya memberikan dampak positif bagi lingkungan tetapi juga menghemat biaya operasional jangka panjang.
Pentingnya keseimbangan gender di tempat kerja juga menjadi perhatian BTN. Saat ini, komposisi karyawan BTN hampir 50% wanita dan 50% pria, serta mereka juga mempekerjakan individu dengan disabilitas. Langkah ini mendemonstrasikan komitmen BTN terhadap aspek sosial dalam penerapan prinsip ESG.
Urgensi Perubahan Menuju Praktik Perbankan yang Lebih Ramah Lingkungan
Nixon menekankan betapa pentingnya industri perbankan untuk tidak menunggu regulasi dari pemerintah dalam mengadopsi praktik perbankan ramah lingkungan. Kesadaran akan perubahan iklim dan dampaknya tidak dapat lagi diabaikan, terutama setelah mengalami bencana alam yang berkaitan dengan perubahan iklim.
Dengan mencermati peristiwa bencana alam yang terjadi baru-baru ini, BTN menyadari bahwa tanggung jawab lingkungan adalah hal yang harus diprioritaskan. Ini menjadi tantangan untuk setiap bank dalam merespons perubahan yang mendesak tersebut.
Sebagai bagian dari industri perbankan, BTN ingin menjadi pelopor dalam penerapan praktik berkelanjutan tanpa menunggu arahan dari pemerintah. Dengan melibatkan diri aktif dalam inisiatif keberlanjutan, BTN membuktikan bahwa pertumbuhan bisnis dan prinsip ramah lingkungan dapat berjalan seiring.
