Jakarta baru saja mengakhiri hari perdagangan dengan pergerakan yang signifikan di bursa saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan 1,36% atau setara dengan 124,37 poin, tertutup pada level 9.010,33 pada Rabu sore (21/1/2026). Banyak investor terlihat melakukan aksi jual yang mencolok.
Pada hari itu, terdapat 569 saham yang mengalami penurunan, 198 saham tetap tidak berubah, dan hanya 191 saham yang berhasil ditutup di zona positif. Dengan total nilai transaksi yang mencapai Rp 33,9 triliun, ini menunjukkan minat yang tinggi dari pasar meskipun di tengah koreksi yang terjadi.
Permintaan yang menurun di tengah ketidakpastian ini menciptakan keinginan investor untuk menjual saham mereka, menunjukkan tekanan jual yang kuat. Lima saham mencatatkan pelemahan signifikan dan nilai transaksi yang cukup besar selama perdagangan berlangsung.
Pergerakan Saham Menjadi Sorotan Utama di Pasar
Bumi Resources (BUMI) menjadi sorotan dengan total nilai transaksi mencapai Rp 7,3 triliun. Sahamnya mengalami penurunan sebesar 6,76% hingga mencapai level 386. Hal ini membuktikan bahwa meskipun perusahaan memiliki potensi yang baik, respons pasar saat ini memberikan reaksi negatif yang cukup kuat.
Bank Central Asia (BBCA) juga mengalami tekanan besar dengan total nilai transaksi sebesar Rp 4,71 triliun dan penurunan 3,75% pada harga sahamnya, mencapai level 7.700. Aksi jual yang dilakukan oleh investor asing senilai Rp 751,1 miliar selama sesi ini memberi dampak pada kinerja saham.
Saham Astra (ASII) dan United Tractor (UNTR) juga tidak luput dari tekanan jual. ASII mengalami penurunan yang cukup signifikan mencapai 9,28% dengan total transaksi Rp 3,55 triliun, sedangkan UNTR anjlok hingga 14,93% dengan nilai transaksi Rp 2,54 triliun. Hal ini disebabkan oleh keputusan pemerintah yang mencabut izin usaha di sektor tertentu.
Analisis Teknis dan Faktor Eksternal Memengaruhi IHSG
Dalam analisisnya, Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, mengemukakan bahwa tekanan pada IHSG disebabkan oleh kombinasi dari sentimen geopolitik global dan isu domestik terkait saham-saham besar berbasis sumber daya alam. Investor cenderung menghindari ketidakpastian, beralih ke aset yang lebih aman seperti emas dan dolar AS.
Dampak ke psikologis pasar sangat terasa, dengan arus keluar modal dari pasar saham Indonesia ke pasar yang lebih stabil di luar negeri. Hal ini tentunya berimbas pada penurunan nilai tukar rupiah yang semakin melemah, menciptakan ketidakpastian lebih lanjut di tengah investor.
Namun, masih ada harapan untuk IHSG meskipun saat ini sedang berada dalam tekanan. Dari sisi fundamental, IHSG masih dianggap cukup kuat berkat dukungan dari ekonomi domestik serta dominasi investor lokal dalam aktivitas perdagangan harian di bursa.
Pola Pergerakan Pasar di Tengah Ketidakpastian Global
Dari perspektif teknikal, Head of Research Retail MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyatakan bahwa pergerakan IHSG hari ini sejalan dengan proyeksi teknikal yang ada. Kelemahan IHSG juga terpantau mengikuti tren negatif dari bursa global serta regional di Asia, tanpa diduga sebelumnya.
Ketegangan geopolitik seperti rencana AS untuk mengambil Greenland dan ancaman tarif impor baru terhadap negara-negara tertentu telah memberi dampak luas, termasuk industri yang terpengaruh. Ada korelasi yang kuat antara dinamika politik global dan kinerja pasar di Indonesia.
Meski IHSG berada dalam momentum negatif, analisis teknikal yang dilakukan oleh M. Nafan Aji Gusta menunjukkan bahwa indikator Stochastics masih menunjukkan sinyal positif. Hal ini menunjukkan masih ada potensi untuk rebound pada tingkat tertentu jika faktor eksternal dapat menunjukkan perbaikan.
Dampak Aksi Jual Terhadap Kepercayaan Pasar Modal
Aksi jual yang keras dari investor asing, yang tercatat mencapai Rp 5,1 triliun terhadap pembelian sebesar Rp 4,1 triliun, menciptakan net foreign sell sebesar Rp 1 triliun. Hal ini menimbulkan kekhawatiran yang lebih besar bagi pasar modal domestik yang sedang berjuang untuk mempertahankan keyakinan investor.
Memasuki periode berikutnya, tantangan bagi IHSG adalah menguji level support psikologis di 9.000. Meskipun fundamental ekonomi Indonesia terlihat cukup solid, efek dari ketidakpastian global dan aliran modal yang keluar tetap menjadi faktor yang harus diperhatikan secara serius oleh para pelaku pasar.
Dengan volatilitas yang tinggi dan arah yang tidak pasti, investor diharapkan tetap waspada dan memperhatikan sinyal-sinyal yang muncul dari indikator teknikal serta faktor-faktor eksternal yang dapat mempengaruhi keputusan mereka untuk berinvestasi di pasar modal. Kesiapan untuk beradaptasi dengan perubahan situasi global akan menjadi kunci untuk mencapai kesuksesan dalam pengelolaan portofolio investasi.
