Pasar saham Indonesia mengalami fluktuasi yang signifikan saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok ke zona merah, menunjukkan tekanan yang dialami oleh banyak sektor. Pada hari Rabu, 21 Januari 2026, IHSG tercatat turun 1,24% atau 113,21 poin, mencapai level 9.021,49. Pelaku pasar menghadapi kondisi yang lebih menantang akibat berbagai faktor eksternal dan internal yang memengaruhi investasi.
Pada perdagangan hari itu, sebanyak 601 saham mengalami penurunan, sementara hanya 152 saham yang berhasil naik. Selain itu, 205 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga. Total nilai transaksi di pasar mencapai Rp 20,78 triliun, dengan volume mencapai 35,92 miliar saham yang diperdagangkan dalam 2,51 juta kali transaksi. Data ini mencerminkan tingkat likuiditas yang tinggi meskipun kondisi pasar sedang tidak stabil.
IHSG bahkan sempat menyentuh level psikologis 9.000, tertekan hingga 1,48% pada pukul 09.50 WIB. Nyaris seluruh sektor mengalami pelemahan, terutama sektor properti dan konsumer primer, yang mengalami penurunan masing-masing sebesar 3,99% dan 2,7%. Kondisi ini mencerminkan ketidakpastian di pasar yang berdampak pada keputusan investasi pelaku pasar.
Penjelasan Dampak Terhadap Sektor-Sektor Terkait di Pasar Saham
Salah satu sektor yang paling terpukul adalah sektor properti. Penurunan ini terjadi di tengah kabar buruk mengenai izin usaha yang dicabut oleh pemerintah terkait banjir di Sumatra. Sektor ini mengalami koreksi yang signifikan dan mencerminkan dampak dari kebijakan pemerintah yang bisa memengaruhi pasar secara keseluruhan.
Selain itu, sektor konsumer primer juga mencatatkan koreksi yang cukup tajam, menunjukkan bahwa konsumen mulai berhati-hati dalam pengeluaran mereka. Kebijakan-kebijakan yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat sering kali menjadi faktor yang memengaruhi permintaan dalam sektor ini. Oleh karena itu, pelaku pasar harus mempertimbangkan berbagai faktor eksternal dalam mengambil keputusan investasi.
Saham-saham besar yang menjadi penggerak IHSG juga ikut tertekan dalam kondisi pasar yang tidak menentu. Misalnya, saham Grup Astra menjadi salah satu kontributor utama dalam penurunan IHSG. Saham ini mengalami penyusutan drastis akibat pencabutan izin usaha kehutanan dan pertambangan, membuat investor pesimis terhadap kinerja jangka pendek perusahaan.
Analisis Terhadap Saham Perusahaan Besar dan Penyebab Penurunan
Saham ASII, yang merupakan bagian dari Grup Astra, mengalami penurunan signifikan hingga 11,34%, diperdagangkan di level Rp 6.450 per saham. Penurunan ini menyoroti bagaimana berita negatif dapat menggerakkan harga saham dengan cepat dan tajam di bursa.
Sementara itu, saham UNTR juga tidak luput dari koreksi, anjlok hingga 14,93% ke level 27.200. Situasi ini memberikan gambaran yang jelas tentang bagaimana risiko eksternal dapat mengganggu kinerja perusahaan di sektor yang bergantung pada izin serta regulasi pemerintah.
Tidak hanya itu, Bank Central Asia (BBCA) juga mencatatkan penurunan 1,88% ke level 7.850. Penurunan ini terjadi di tengah tekanan aksi jual yang dilakukan oleh investor asing yang mulai menjauh dari pasar. Para analis menyarankan agar investor tetap waspada terhadap fluktuasi ini dan tidak panik dalam mengambil keputusan.
Pengaruh Ketidakpastian Global Terhadap Saham Lokal
Dengan meningkatnya ketidakpastian di pasar global, pelaku pasar dalam negeri juga harus bersiap menghadapi dampak yang akan berlanjut. Ancaman baru berupa tarif dari presiden negara besar seperti Amerika Serikat dapat memicu ketidakpastian lebih lanjut, sehingga investor menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.
Pasar obligasi global juga menunjukkan peningkatan tekanan, yang bisa berdampak lebih jauh pada likuiditas pasar saham di Indonesia. Ini menunjukkan bahwa pelaku pasar perlu mempertimbangkan integrasi pasar internasional dan implikasinya bagi investasi lokal.
Dalam menghadapi situasi ini, Bank Indonesia diperkirakan akan mengambil langkah-langkah yang hati-hati untuk menjaga stabilitas ekonomi. Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dijadwalkan pada hari Rabu akan menjadi momen penting untuk menilai kebijakan moneter masa depan.
Hasil dari RDG sebelumnya telah menunjukkan bahwa BI memilih untuk mempertahankan suku bunga di level 4,75%, serta menyusul keputusan untuk mempertahankan level fasilitas deposito dan fasilitas pinjaman. Kebijakan ini mencerminkan upaya BI untuk mendukung pertumbuhan ekonominya sambil mengawasi inflasi yang dapat mengganggu stabilitas pasar.
Berdasarkan konsensus dari berbagai lembaga, diperkirakan BI akan kembali menahan suku bunga di level yang sama. Langkah ini menjadi penting dalam menciptakan kepercayaan di kalangan investor dan menjaga stabilitas pasar di tengah ketidakpastian yang sedang berkembang.
