Sektor infrastruktur di Indonesia semakin menunjukkan sinar terang sebagai salah satu bisnis yang sangat menjanjikan. Hal ini terlihat dari banyaknya konglomerat yang mulai merambah ke sektor ini, menjadikannya sebagai fokus utama di dalam strategi perusahaan mereka. Kebutuhan masyarakat akan akses jalan yang baik mendorong pertumbuhan bisnis infrastruktur dalam beberapa tahun ke depan.
Sejumlah tokoh penting dalam bisnis ini mulai mengambil langkah aktif untuk memperluas jaringan jalan tol dan infrastruktur lainnya. Dalam konteks ini, beberapa konglomerat terkemuka dapat diidentifikasi sebagai pemain kunci yang memiliki pengaruh besar dalam pengembangan jalan tol di Indonesia. Di bawah ini adalah beberapa dari mereka yang berperan penting dalam sektor jalan tol.
1. Jusuf Hamka
Jusuf Hamka merupakan sosok yang cukup terkenal dalam bisnis jalan tol melalui perusahaannya, yang dikenal sebagai salah satu pionir di bidang ini. Ia memiliki sejumlah ruas jalan tol strategis yang tersebar di wilayah Jabodetabek, menciptakan konektivitas yang lebih baik bagi masyarakat.
Perusahaan yang dimiliki olehnya adalah PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk. (CMNP), yang merupakan perusahaan jalan tol swasta pertama di Indonesia. Dengan total tujuh ruas jalan tol, CMNP memang menjadi salah satu pemimpin di sektor ini dan terus berinovasi.
Jalan tol yang dimiliki oleh Jusuf Hamka dan perusahaannya termasuk Jalan Tol Ir. Wiyoto Wiyono, Jalan Tol Depok-Antasari, dan Jalan Tol Soreang-Pasirkoja di Bandung. Jalan tol ini bukan hanya penghubung antar wilayah, tetapi juga berfungsi untuk mengurangi kemacetan lalu lintas yang sering terjadi di daerah tersebut.
Konglomerat Lain yang Menguasai Sektor Jalan Tol
Selain Jusuf Hamka, beberapa konglomerat lain juga tidak kalah menarik perhatian dalam sektor jalan tol. Salah satunya adalah Anthoni Salim, yang dikenal melalui Grup Salim. Melalui PT Nusantara Infrastructure Tbk. (META), Salim telah melakukan langkah signifikan dalam akuisisi perusahaan jalan tol.
Pada 27 September 2024, PT Nusantara Infrastructure berhasil mengakuisisi 35% saham PT Jasamarga Transjawa Tol (JTT) dengan nilai mencapai Rp15,75 triliun. Langkah ini menunjukkan komitmen grup Salim dalam meningkatkan jaringan infrastruktur di Indonesia.
Setelah akuisisi, kepemilikan saham di JTT menjadi beragam, di mana MPTIS memegang 20,3%, diikuti oleh Warrington dan MUN. Keberadaan entitas ini diharapkan dapat mempercepat pembangunan infrastruktur di Indonesia.
3. Sugianto Kusuma alias Aguan
Selain itu, Sugianto Kusuma dengan Grup Agung Sedayu juga menjadi pemain penting dalam pembangunan jalan tol. Saat ini, ia sedang mengerjakan proyek Jalan Tol Kamal-Teluknaga-Rajeg yang bertujuan menghubungkan kawasan Kabupaten Tangerang dengan Jakarta.
Dengan nilai proyek mencapai Rp23,22 triliun dan ditargetkan selesai pada tahun 2025, proyek ini diperkirakan akan memberikan dampak signifikan bagi perekonomian lokal. Konsorsium yang dibentuk bersama Grup Salim berfokus pada pengembangan kota mandiri, menjadikannya lebih dari sekadar proyek jalan tol.
Peran Sinar Mas dalam Pengembangan Infrastruktur
Sektor jalan tol juga tidak lepas dari perhatian Eka Tjipta Widjaja yang merupakan pendiri Sinar Mas Group. Melalui perusahaannya, PT Trans Bumi Serbaraja, ia terlibat dalam proyek Jalan Tol Serpong – Balaraja yang baru saja mulai beroperasi.
Proyek ini merupakan bagian dari inisiatif Proyek Strategis Nasional (PSN) yang diharapkan dapat meningkatkan konektivitas antarkota. Jalan tol ini memiliki panjang 5,73 km dan telah berfungsi secara fungsional tanpa tarif untuk mendukung mobilitas masyarakat.
Perlu dicatat bahwa keterlibatan Sinar Mas dalam bisnis jalan tol semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu penggiat utama dalam pembangunan infrastruktur. Hal ini menunjukkan bahwa peluang di sektor ini sangat terbuka lebar.
5. William Soerjadjaja
William Soerjadjaja, yang dikenal sebagai pendiri Astra International, juga merambah ke sektor infrastruktur jalan tol. Melalui anak perusahaannya, Astra Tol Nusantara, ia telah berhasil mengembangkan berbagai ruas jalan tol yang sangat strategis.
Proyek-proyek yang dikerjakan antara lain Jalan Tol Tangerang-Merak dan Jalan Tol Semarang-Solo. Dengan pengalaman di sektor otomotif, Astra menunjukkan bahwa investasi dalam infrastruktur adalah langkah yang sangat bijaksana untuk memadukan dua sektor ini.
Kesimpulan Terkait Gairah Sektor Infrastruktur
Menarik untuk dicatat bahwa investasi di sektor infrastruktur, khususnya jalan tol, memiliki potensi yang sangat besar di Indonesia. Dengan dukungan dari berbagai konglomerat besar, proyek-proyek ini dirancang tidak hanya untuk memberikan keuntungan finansial tetapi juga berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional.
Peluang untuk terus berkembang di sektor ini masih terbuka, mengingat kebutuhan masyarakat yang terus bertambah. Selain itu, investasi di infrastruktur juga akan memberikan dampak positif jangka panjang yang signifikan bagi masyarakat.
Dengan berbagai proyek yang sedang dijalankan, sektor jalan tol diharapkan menjadi pendorong bagi perkembangan wilayah dan memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat. Investasi yang dilakukan para konglomerat ini mencerminkan keyakinan mereka akan masa depan Indonesia yang lebih baik dan terhubung secara efisien.
