Perekonomian Indonesia di masa mendatang diharapkan menunjukkan perkembangan yang signifikan, dengan proyeksi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang berfluktuasi. Para ekonom memperkirakan bahwa dalam satu tahun ke depan, rupiah dapat bergerak dalam rentang Rp16.200 hingga Rp17.200 per dolar AS, meskipun ada tantangan dari ketidakpastian global yang masih menghantui.
Analisis dari berbagai lembaga menunjukkan optimisme seiring dengan peluang pertumbuhan ekonomi yang berpotensi mencapai lebih dari 5%. Ini merupakan harapan di tengah ancaman inflasi dan perekonomian global yang tidak menentu.
Ekonom dari Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, mengatakan bahwa rupiah diperkirakan akan menguat pada tahun 2026, meskipun tetap dalam batasan yang realistis. Ia menekankan bahwa meskipun ada faktor yang mendukung, tantangan tetap ada dan perlu diwaspadai.
Proyeksi Nilai Tukar Rupiah dan Pertumbuhan Ekonomi
Proyeksi nilai tukar rupiah menurut Myrdal adalah sekitar Rp16.500 per dolar AS, yang mencerminkan tingkat asumsi APBN untuk tahun 2026. Menurutnya, pada akhir tahun 2025, nilai tukar diperkirakan akan berada di kisaran Rp16.359 per dolar AS.
Ia juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 sekitar 5,21% dengan inflasi yang terjaga di kisaran 2,88%. Proyeksi ini merupakan hal positif dalam upaya mengendalikan harga dan aktivitas ekonomi secara keseluruhan.
Senada dengan pandangan Myrdal, Analis Senior dari Indonesia Strategic and Economics Action Institution, Ronny Sasmita, mengharapkan nilai tukar rupiah dapat mencapai Rp16.200. Namun, dalam skenario negatif, ada kemungkinan nilai tukar dolar akan menyentuh Rp16.800.
Ronny menekankan pentingnya stabilitas di tengah ketidakpastian global. Menurutnya, meskipun pertumbuhan ekonomi diprediksi tidak terlalu optimis, kualitas pertumbuhan diperkirakan akan meningkat berkat kebijakan pemerintah yang lebih baik.
Inflasi dan Suku Bunga yang Stabil sebagai Faktor Pendukung
Inflasi diperkirakan tetap terkendali antara 2,5% hingga 3,5%. Para ekonom menyatakan bahwa meskipun inflasi dapat menjadi tantangan, pengelolaan yang hati-hati oleh Bank Indonesia dapat membantu meminimalkan dampaknya.
Suku bunga juga menjadi fokus penting dalam diskusi ini, di mana beberapa ekonom memprediksi penurunan suku bunga. Penurunan ini diharapkan dapat meningkatkan aliran modal masuk dan mendukung penguatan nilai tukar rupiah.
Josua Pardede, Kepala Ekonom dari Permata Bank, percaya bahwa rupiah akan mengalami penguatan terbatas di kisaran Rp16.500 hingga Rp16.700 pada akhir tahun 2026. Menurutnya, aliran modal tetap penting meskipun tantangan eksternal tetap ada.
Ia juga mengingatkan bahwa penguatan rupiah dapat terbatas oleh beberapa faktor, seperti normalisasi harga komoditas dan kebutuhan pembiayaan defisit, yang semakin meningkat.
Tantangan yang Dihadapi Perekonomian dan Inflasi di Masa Depan
Sementara optimisme tetap ada, beberapa tantangan juga harus diperhatikan. Ekonom UOB Kay Hian, Surya Wijaksana, memprediksi tekanan terhadap rupiah dengan keraguan yang lebih besar. Ia mensinyalir bahwa pada akhir tahun, nilai tukar rupiah mungkin berada di Rp17.234.
Surya memperingatkan mengenai dampak dari kebijakan moneter Bank Indonesia yang relatif longgar, yang dapat membebani nilai tukar. Dalam analisisnya, pertumbuhan ekonomi dapat mencapai 5,3% tetapi harus diimbangi dengan tindakan hati-hati.
Tantangan lain yang harus dihadapi adalah meningkatnya proteksionisme secara global dan lemahnya daya beli masyarakat. Program-program pemerintah yang belum memberikan dampak signifikan juga menjadi hal yang perlu dipertimbangkan dalam analisis ini.
Secara keseluruhan, meskipun ada faktor pendorong untuk pertumbuhan, tantangan-tantangan eksternal dan internal harus dipantau. Hal ini penting untuk menjaga kestabilan nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di Indonesia.
